Pages

Selasa, 10 Februari 2015

Atasan Like Boss Karyawan Ambil Langkah Seribu

Karyawan resign itu hal biasa. Menjadi luar biasa jika karyawan tersebut tergolong karyawan berpotensi. Perusahaan kehilangan SDM terbaiknya yang belum tentu mendapat pengganti dalam waktu singkat. Atasan yang tidak disukai seringkali jadi alasannya.

Atasan yang hanya menjadi bos bukan leader. Hanya mampu memerintah tanpa mengindahkan pengarahan dan muamalah antar manusia. Bos bertindak hanya berdasar orientasi tugas dengan orientasi hubungan manusia yang rendah. Ia bisa menyenangkan karyawan dengan berbagai fasilitas atau tunjangan, namun bukan dengan rasa penghargaan.

Orientasi seperti ini akan menciptakan gaya kepemimpinan otokratis. Implikasinya, kepuasan kerja bawahan rendah. Lambat laun bawahan mulai demotivasi dan kemudian resign. Bekerja dengan tekanan menjadi hal biasa dalam dunia kerja, namun karyawan “star” tidak mau harga dirinya direndahkan.

Slogan Boss is always right sudah mulai ditinggalkan. Atasan yang hebat akan meninggalkan model bos untuk menuju model leader. Memiliki orientasi pada tugas dan muamalah antar manusia. Bergaul dengan bawahan dengan adil dan bijak. Menjadi sempurna jika penilaian karyawan bisa dilakukan menggunakan metode-metode yang masyhur seperti Personal Balanced Scorecard. Dengan demikian, penilaian karyawan menjadi objektif.